Makalah
“PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM SECARA ANTRO-SOSIOLOGIS”
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pendidikan Agama
Islam memiliki peran penting, menjadi tombak untuk pendidikan. Pelaksanaan
pendidikan agama Islam di lembaga pendidikan Islam keluarga dan masyarakat
perlu ditinjau, terutama dari sudut pandang sosio-antropologis.
Pendidikan agama
Islam muncul sebagai solusi kegelisahan masyarakat Indonesia yang pada umumnya
mendambakan itu. Sebagai negara yang dominan
masyarakatnya memeluk agama Islam, lalu bagaimana dengan pelaksanaan
pendidikan agama Islam.
Analisis
pelaksanaan pendidikan agama Islam diperlukan untuk mengkritisi dan pelaksanaan
pendidikan agama Islam dan mencari solusi. Mahasiswa ataupun calon guru
pendidikan agama Islam patut untuk memahami pelaksanaan pendidikan agama Islam
bukan hanya dilembaga pendidikan Islam tetapi juga keluarga dan masyarakat.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa definisi Pendidikan Agama Islam ?
2.
Bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada
Keluarga?
3.
Bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah?
4.
Bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada Madrasah?
5.
Bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada
Pesantren?
6.
Bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada
Masyarakat?
7.
Bagaimana analisis sosio-antropologi pelaksanaan
Pendidikan Agama Islam?
C.
TUJUAN
1.
Mengetahui definisi Pendidikan Agama Islam.
2.
Memahami bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam
di lembaga pendidikan Islam, keluarga dan masyarakat.
3.
Mengetahui analisis sosio-antropologis
pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di lembaga pendidikan Islam, keluarga dan
masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Pendidikan
Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk
menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama
Islam melalui kegiatan pembimbingan, pengarahan atau latihan dengan
memerhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan
antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan kesatuan nasional (GBPP
SMU, 1995:1).[1]
Sedangkan menurut Muhaimin (2009), definisi PAI adalah
sebagai berikut:
Pendidikan Agama Islam
pada dasarnya adalah pendidikan yang menyentuh tiga aspek secara terpadu,
yaitu: (1)
knowing , yakni agar peserta
didik dapat mengetahui dan memahami ajaran dan nilai-nilai agama; (2) doing,
yakni agar peserta didik dapat mempraktikkan ajaran dan nilai-nilai agama; (3) being
, yakni agar peserta didik menjalani hidup sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai
agama. Adapun tujuan dari Pendidikan Agama Islam secara substansial sangat
mulia yakni mengasuh, membimbing, mendorong, mengusahakan, menumbuhkembangkan
manusia taqwa. Taqwa merupakan derajat yang menunjukkan kualitas manusia bukan
saja dihadapan sesama manusia, tetapi juga dihadapan Allah SWT.[2]
Sehingga, singkatnya definisi Pendidikan Agama Islam adalah
pendidikan yang memelihara nilai-nilai maupun ajaran Islam untuk membentuk
peserta didik menjadi insan taqwa.
B. Pelaksanaan Pendidikan
Agama Islam pada Keluarga
A. Periodesasi
Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga
Terbentuknya anak-anak sholeh dan sholehah
merupakan dambaan keluarga yang tidak bisa dengan mantra ‘Bim Salabim’ tetapi
melalui serangkaian usaha dan proses yang panjang melalui upaya kontinu yang
dikondisikan sejak dini bahkan semenjak lahirnya anak ataupun dimulai pada saat
seseorang mencari pasangan hidupnya agar tidak keliru mencari jodoh.
Menurut konsepsi pendidikan Islam, pendidikan
agama dalam keluarga dapat dibagi menjadi 3 periode.
1.
Periode
Pra-Konsepsi
Periode Pra-Konsepsi salah satu upaya persiapan
pendidikan yang dimulai semenjak seseorang memilih pasangan hidupnya sampai
pada saat ‘mengandung buah hati’.
Pendidikan Islam mengajarkan agar mengutamakan
segi agama yang berarti sama-sama beragama Islam dan berbudi pekerti baik. Karena jika yang pernikahan beda
agama diberbolehkan maka akan dapat menimbulkan problem dalam kehidupan rumah
tangga terutama nantinya dalam pendidikan agama anak-anaknya.
Setelah terbentuknya rumah tangga muslim,
langkah selanjutnya mencari rizki dan makanan yang halal. Karena apa yang kita
makan berdampak pada keturunan kita. Sedangkan dalam ilmu biologi makanan yang
baik dan bergizi akan membentuk janin yang sehat dan kuat.
2.
Pendidikan
Pre-Natal
Upaya pendidikan yang dilakukan oleh calon ayah
dan calon ibu pada saat anak masih dalam kandungan. Pendidikan pre-natal sangat
penting bagi pembentukan pribadi anak karena dipengaruhi oleh perilaku
orangtuanya.
Konsepsi pendidikan pre-natal telah ada dan Islam mengajarkan keteladanan
dalam kisah yang tertuang di surat Ali Imran:35.
Adapun pelaksanaan pendidikan agama Islam antara lain :
a.
Bersifat
Agamis
Calon ayah dan calon ibu hendaknya banyak
ibadah, berdoa dan membaca qur’an. Serta menjaga lisan dan pikiran hindari negative
thinking.
b.
Bersifat
Ilmiah
Memakan makanan yang baik, halal dan bergizi,
menjaga kebersihan dan menjaga ketenangan dalam rumah tangga. Serta mempelajari
ilmu-ilmu umum maupun agama untuk bekal mendidik anak merawat maupun
mengasuhnya.
3.
Periode
Post-Natal
Pendidikan yang dimulai semenjak lahirnya anak
sampai dewasa bahkan sampai meninggal dunia atau yang sering kita dengar ‘Long
life Education’.
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
Artinya: “Dan perintahkanlah kepada
keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami
tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan
akhirat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (Q.S. Thaha:
132).
Hadits tentang pendidikan
terhadap anak
حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ
هِشَامٍ يَعْنِي الْيَشْكُرِيَّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ سَوَّارٍ أَبِي
حَمْزَةَ قَالَ أَبُو دَاوُد وَهُوَ سَوَّارُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو حَمْزَةَ
الْمُزَنِيُّ الصَّيْرَفِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
جَدِّهِ قَالَ ,قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ
سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا
بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
Artinya: “Berkata
Mu’ammal ibn Hisyam Ya’ni al Asykuri, berkata Ismail dari Abi Hamzah, berkata
Abu Dawud dan dia adalah sawwaru ibn Dawud Abu Hamzah Al Muzanni Al Shoirofi
dari Amru ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata, berkata Rasulullah
SAW: Suruhlah anakmu melakukan sholat ketika berumur tujuh tahun. Dan pukullah
mereka karena mereka meninggalkan sholat ketika berumur sepuluh tahun. Dan
pisahlah mereka (anak laki-laki dan perempuan) dari tempat tidur.” (H.R.
Abu Dawud).[3]
Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan
bahwa :
a. Upaya
penanaman pendidikan agama kepada anak haruslah dimulai sejak dini dalam
lingkungan keluarga, kemudian diteruskan di sekolah dan dimantapkan dalam
masyarakat.
b. Ketiga
pusat pendidikan (keluarga, sekolah dan masyarakat) harus selalu seiring,
sejalan dan setujuan sehingga tujuan pendidikan Islam akan dapat dicapai.
c. Dalam
kehidupan keluarga, anak sangat membutuhkan suri teladan, khususnya dari kedua
orang tuanya agar sejak masa kanak-kanaknya ia menyerap dasar tabiat perilaku
Islami dan berpijak pada landasannya yang luhur.[4]
Sehingga keteladanan merupakan faktor dari orangtua yang sangat mempengaruhi
terhadap pelaksanaan pendidikan agama Islam di lingkungan keluarga.[5]
B.
Spiritual Well-Being
Perhaps the most controversial finding of the
family strenghs researches is the importance of religion or spirituality in
strong families. Some families call this spiritual well-being. Others
talk about faith and God, hope, or optimism about life. Some say they feel a
oneness with the world. Others talk about their families in almost religious
term, describing the love they feel for one another as secred. Others express
these kinds of feelings in terms of ethical values and commitment to important
causes.
Spiritual well-being cna be the caring center
within each individual that promotes sharing, love, and compassion. Spiritual
well-being is the feeling or force that helps people transcend themselves. “I
feel my family is a part of all the families of the world,” said one
respondent. An important aspect of membership in a religious or spiritual groub
is the caring, supportive community is provides. When illness strikes, a baby
is born, or an accident occurs, friends in a groub are often quick to help each
other.
It is important to distinguish between what is
“spiritual” versus “religious” in talking about spiritual well-being (Erisman,
2004). While spiritual beliefs focus on private and more universal beliefs,
religious beliefs emphasize the public and external system linked more with
denominations than family dynamics. Families that are grounded spiritually
often have integrated these beliefs into their family behavior and traditions.
Agreement by a married couple on spiritual
beliefs has also been found to be strongly linked to a more succesful marriage
(Larson and Olson, 2004). In a national study with 24,671 marrried couples who
took the ENRICH couple inventory, couples with high agreement on spiritual
beliefs not only were more happily married, but also had many other strengths
in their marriages including better communication, greater ability to resolve
conflict and feeling more couple closeness; they also had igher levels a couple
flexibility.[6]
Penemuan yang paling kontroversial dari
kekuatan keluarga penelitian adalah pentingnya agama atau spiritualitas dalam
keluarga yang kuat. Beberapa keluarga menyebutnya spiritual kesejahteraan.
Lainnya berbicara tentang iman dan Tuhan, harapan, atau optimisme tentang
kehidupan. Ada yang mengatakan mereka merasa kesatuan dengan dunia. Lainnya
berbicara tentang keluarga mereka di jangka hampir agama, menggambarkan cinta
yang mereka rasakan satu sama lain sebagai secred. Lainnya mengungkapkan
jenis-jenis perasaan dalam hal nilai-nilai etika dan komitmen untuk penyebab
penting.
Spiritual kesejahteraan cna menjadi pusat
perhatian dalam setiap individu yang mempromosikan berbagi, cinta, dan kasih
sayang. Spiritual kesejahteraan adalah perasaan atau kekuatan yang membantu
orang mengatasi sendiri. "Saya merasa keluarga saya adalah bagian dari
semua keluarga di dunia," kata salah seorang responden. Sebuah aspek
penting dari keanggotaan dalam groub agama atau spiritual adalah kepedulian
itu, masyarakat mendukung adalah menyediakan. Ketika serangan penyakit, bayi
lahir, atau kecelakaan terjadi, teman-teman di groub sebuah sering cepat untuk
membantu satu sama lain.
Hal ini penting untuk membedakan antara apa
yang "spiritual" versus "agama" dalam berbicara tentang
spiritual kesejahteraan (Erisman, 2004). Sementara keyakinan spiritual fokus
pada keyakinan pribadi dan lebih universal, agama menekankan sistem publik dan
eksternal terkait dengan denominasi lebih dari dinamika keluarga. Keluarga yang
membumi sering rohani telah terintegrasi keyakinan dalam perilaku keluarga dan
tradisi.
Kesepakatan oleh pasangan yang sudah menikah
pada keyakinan spiritual juga telah ditemukan sangat terkait dengan pernikahan
yang lebih sukses (Larson dan Olson, 2004). Dalam sebuah studi nasional dengan
24.671 pasangan marrried yang mengambil beberapa memperkaya persediaan,
pasangan dengan kesepakatan tinggi pada keyakinan spiritual tidak hanya yang
lebih bahagia menikah, tetapi juga memiliki banyak kekuatan lain di pernikahan
mereka termasuk komunikasi yang lebih baik, kemampuan yang lebih besar untuk menyelesaikan
konflik dan merasa lebih beberapa kedekatan; mereka juga memiliki tingkat lebih
tinggi beberapa lagi fleksibilitas.
C . Pelaksanaan
Pendidikan Agama Islam pada Sekolah
Pelaksanaan pendidikan agama yang berlangsung disekolah
masih mengalami banyak kelemahan. Mochtar Buchori menilai pendidikan agama
masih gagal. Kegagalan disebabkan karena praktek pendidikan hanya memperhatikan
aspek kognitif semata dari pertumbuhan kesadaran nilai-nilai agama, dan
mengabaikan pembinaan aspek afektif yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan
nilai-nilai ajaran agama. Akibat terjadi kesenjangan antara pengetahuan dan
pengamalan dalam kehidupan nilai agama atau dalam praktek pendidikan agama
berubah menjadi pengajaran agama, sehingga tidak membentuk pribadi-pribadi
bermoral, padahal intisari dari pendidikan agama adalah pendidikan moral.
Dalam pelaksanaan progam pendidikan agama di berbagai
sekolah umum, belum seperti yang kita harapkan, karena berbagai kendala dalam
bidang kemampuan pelaksanaan metode, sarana fisik dan non fisik. Disamping
suasana lingkungan pendidikan yang kurang menunjang suksesnya pendidikan mental
spiritual dan moral. Padahal fasilitas dasarnya telah disediakan oleh
pemerintah melalui Tap-Tap MPR, pengaturan perundangan lainya, serta berbagai
proyek pembangunan sektor agama dan pendidikan.
Beberapa faktor yang menghambat pendidikan agama :
1. Faktor-faktor eksternal
a. Timbulnya sikap orang tua dibeberapa lingkungan
sekitar yang kurang menyadari tentang pentingnya pendidikan agama, tidak
mengacuhkan akan pentingnya pemantapan pendidikan agama di sekolah yang
berlanjut di rumah. Orang tua yang bersikap demikian disebabkan oleh dampak
kebutuhan ekonomisnya yang mendorong bekerja 20 jam di luar rumah, sehingga
mereka menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah untuk mendidik anaknya 2 jam per
minggu.
b. Situasi lingkungan sekitar sekolah dipengaruhi pikiran kotor dalam berbagai raga bentuknya, seperti judi, tontonan
porno dan maksiat-maksiat lainnya. Situasi yang demikian dapat melemahkan daya
konsentrasi berfikir dan berakhlaq mulia, serta mengurangi gaya belajar, bahkan
mengurangi daya saing dalam meraih kemajuan.
c. Adanya gagasan baru dari para ilmuan untuk mencari
terobosan baru terhadap berbagai problema pembangunan dan kehidupan remaja,
menyebabkan para pelajar secara latah mempraktekan makna yang keliru atats
kata-kata yang terobosan menjadi mengambil jalan pintas dalam mengejar
cita-citanya tanpa melihat cara-cara yang halal dan haram, seprti mencontek,
membeli soal-soal ujian akhir, perolehan nilai secara aspal, bahkan ada yang
menghalalkan cara apapun seprti doktrin komunisme.
d. Timbulnya sikap frustasi dikalangan orang tua yang
beranggapan bahwa tingginya tingkat pendidikan, tidak akan menjamin anaknya
untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, sebab perluasan lapangan kerja tidak
dapat mengimbangi banyaknya pencari kerja.
e. Serbuan dampak kemajuan
ilmu dan teknologi dari luar negri semakin melenturkan perasan religius dan
meleberkan kesenjangan antara nilai tradisional dengan nilai rasional
teknologis, menjadi sumber transisi nilai yang belum menentukan arah dan
pemukiman yang baru.
2. Faktor-faktor internal
a. Guru kurang kompeten
utnuk menjadi tenaga profesional pendidikan atau jabatan guru yang disandangnya
hanya merupakan pekerjaan alternatif terakhir, tanpa menekuni tugas sebenarnya
selaku guru yang berkualitas atau tanpa ada rasa dedikasi sesuai tuntutan
pendidikan.
b. Penyalahgunaan
menejemen penempatan yang mengalih tugaskan guru agama ke bagian administrasi,
seperti perpustakaan, atau pekerjaan non guru.
c. Pendekatan metologi guru masih terpaku kepada
orientasi tradisional, sehingga tidak mampu menarik minat murid pada pelajaran
agama.
d. Kurangnya rasa solidaritas antra guru agama dengan
guru - guru bidang studi umum, sehingga timbul sikap memencilkan guru agama,
yang mengakibatkan pelaksanaan pendidikan agama tersendat-sendat dan kurang
terpadu.
e. Kurangnya waktu persiapan guru agama dalam mengajar
karena disibukan oleh usaha nonguru untuk mencukupi kebutuhan ekonomi
sehari-hari atau mengajar di sekolah-sekolah suasta.
f. Hubungan guru agama dengan murid hanya bersifat
formal, tanpa berkelanjutan dalam situasi informal di luar kelas.[7]
|
No
|
Ruang Lingkup/Aspek
|
Problematika
|
Solusi
|
|
1
|
Al- Quran
|
1. Kurangnya kemampuan siswa dalam
membaca dan menulis
2. Waktu yang tersedia tidak mencukupi apabila
pembelajaran al-Quran ditambah
|
1. Bekerjasama dengan
TPQ di lingkungan sekolah.
2. Dengan cara menambahkan pembelajaran al-Quran bagi siswa dalam
prog. Ekstrakurikuler.
|
|
2
|
Al-Hadits
|
1. Kurangnya materi hadits yang ada
di dalam kurikulum
2. Bersifat hafalan
|
1. Guru PAI mengembangkan materi hadits sehingga hadits yang
ditampilkan lebih beragam.
2. Mengaitkan materi hadits dengan
kehidupan sehari-hari(lebih aplikatif)
|
|
3
|
Keimanan/Aqidah
|
1.Lebih menekankan materi yang bersifat pendoktrinan
2. Bersifat kognitif
|
1. Mengaitkannya dengan kehidupan nyata
sehari-hari serta membuka dialog.
2. Memberikan pengalaman belajar langsung
sehingga mengesankan bagi siswa.
|
|
4
|
Akhlak
|
1.Lebih menekankan kepada kemampuan kognitif
2.Contoh-contoh yang diberikan lebih bersifat sosok
ideal lama
|
1. Evaluasi harus diubah, yaitu lebih
menekankan kepada penerapan, misalnya dengan pembelajaran penerapan langsung.
2.Mengaitkannya materi dengan sosok/tokoh masa kini.
|
|
5
|
Fiqih
|
1.Penilaian seringkali lebih menekankan pada kemampuan kognitif
2. Kurangnya sarana prasarana
|
1. Evaluasi juga menekankan kepada
penerapan.
2.Bekerjasama dengan lembaga keagamaan di sekitar sekolah.
|
|
6
|
SKI
|
1. Seringkali hanya bersifat
narasi dan hafalan
2. Kurangnya minat siswa
|
1. Menekankan kepada
pengambilan hikmah.
2. Ditampilkan suasana yang menarik minat siswa,
dengan mengaitkannya kepada kehidupan sehari-hari siswa.
|
|
|
|
|
|
Puisi Sekolah
dari Munif Chatib
Sekolah itu bukan warung.
Sekolah itu institusi sumber daya manusia
tingkat tinggi.
Butuh orang-orang yang punya komitmen dan
kompetensi untuk membangunnya.
Ketika hakikat belajar dikembalikan kepada
hakikat manusia,
tidak semua orang bisa menerimanya,
banyak orang yang menganggap mustahil.
Namun, kami punya keyakinan,
bahwa belajar itu harus manusiawi.
Belajar itu harus menyelam dalam kondisi
siswanya,
seperti sepak terjang para nabi mangajar
umatnya,
penuh tantangan untuk berhasil.
Ketika seorang guru meragukan,
tidak ada anak yang bodoh di Sekolahnya
Manusia,
bersamaan dengan itu, ...
ribuan guru mampu memberikan kepercayaan diri:
aku bisa, ... aku ada, ... aku punya manfaat,
kepada banyak anak yang punya hambatan.
Ketika seorang guru mengeluh,
Sekolahnya Manusia gagal menghadirkan nilai
kognitif yang tinggi,
bersamaan dengan itu, ...
ribuan guru bersyukur, nilai kognitif para
siswanya sangat mengagumkan.
Ketika seorang guru menanggalkan fitrah
kemanusiaannya,
menuhankan kognitif dengan halalkan
ketidakjujuran,
bersamaan dengan itu, ...
ribuan guru bahagia, nilai kognitif siswanya
berhasil,
dengan kejujuran tingkat tinggi,
Ketika seorang guru menggerutu,
Sekolahnya Manusia menghasilkan siswa yang
nakal tidak bisa diatur,
bersamaan dengan itu, ...
ribuan guru menjadi sahabat siswanya seumur
hidup,
menjadi pantikan inspirasi meraih cita-cita!.[9]
D. Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada
Madrasah
Pelaksanaan pendidikan agama Islam di madrasah
bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan berkarakter.
Namun, pada pelaksanaanya penulis dalam beberapa literatur penulis menemukan
stigma negatif tentang pelaksanaan PAI di madrasah. Di Indonesia sebagian besar
lembaga pendidikan Islam yang kurang memperhitungkan kualitasnya. Bagaimana
hendak menjadi lembaga Islam yang sosio-antropologi, sedangkan masih banyak
guru-guru yang mismatch (Guru yang mengajar
tidak sesuai dengan bidang keilmuannya, misalnya lulusan PAI mengajar
B.Inggris, lulusan syari’ah mengajar matematika,dsb).
Menurut penulis, memang adakalanya stigma itu benar adanya. Tapi,
permasalahan itu tidak hanya terdapat di lembaga pendidikan Islam tingkat
madrasah tetapi juga semua lembaga pendidikan di Indonesia rata-rata mengalami
masalah yang serup juga.
E. Pelaksanaan
Pendidikan Agama Islam pada Pesantren
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam di
Indonesia pribumi, tempat umat Islam belajar dan mengaplikasikan ajaran Islam
dalam kehidupan sehari-harinya.
Pesantren Darul Arafah Deli Serdang Sumatra
Utara pembelajarannya menggunakan
referensi yang dominan menggunakan buku berbahasa Arab. Mata pelajaran
terpisah-pisah (fiqh, SKI, Tauhid, Muthola’ah yakni belajar bahasa Arab dengan
kata mutiara, nahwu Shorof, dll ). Pelaksanaan pendidikan agama Islam, pada
mata pelajaran fiqh bidayatul mujtahid (Pendapat para ulama mazhab), bullughul
maram (kumpulan hadits), pelajaran mustholahul hadits.
F. Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada
Masyarakat
Masyarakat Indonesia yang pada umumnya beragama Islam,
tentu mempengaruhi pelaksanaan pendidikan agama Islam. Namun, yang perlu di
garis bawahi yakni bagaimana menjadi masyarakat yang peka akan pendidikan
terutama pendidikan Islam. Dalam sebuah fenomena, sebagian besar masyarakat
kita tahu akan haramnya berpakaian yang tidak sedap dipandang dalam agama.
Namun, itulah kenyataanya. Sebagian dari kita tahu akan menghormati dan
menyayangi, tetapi pada implementasinya masih kurang. Banyak orang di kalangan
masyarakat yang hanya mau berbicara tanpa ingin mendengarkan pendapat/suara
orang lain.
BAB III
KESIMPULAN
Analisis Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam secara
Sosio-Antropologis
Pendidikan Agama Islam di Indonesia dapat dibedakan ke
dalam dua tingkatan, yaitu pendidikan dasar-menegah Islam dan pendidikan tinggi Islam. Kemudian,
pendidikan dasar-menegah Islam di Indonesia dapat dibedakan lagi ke dalam tiga
jenis, yaitu:
1. Pesantren
2. Madrasah
3. Sekolah[10]
Masing-masing mempunyai keunggulan disamping
kelemahan. Pada umumnya pesantren unggul di bidang ilmu-ilmu agama, tetapi
lemah di bidang ilmu-ilmu umum. Sebaliknya, sekolah lemah di bidang ilmu-ilmu
agama dan unggul di bidang ilmu-ilmu umum. Madrasah didirikan untuk menampung
keunggulan pesantren dan sekolah, disamping upaya untuk menghilangkan atau
setidaknya mengurangi kelemahan dari keduanya. Akan tetapi, kenyataan
menunjukkan sebaliknya, kecuali beberapa madrasah, seperti Madrasah Aliyah
Insan Cendikia Serpong, Madrasah Pembangunan Jakarta, Madrasah Terpadu (MIN,
MtsN, MAN) Malang, dsb.
Lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia
masing-masing memiliki kelemahan dan keunggulan. Misalnya; pesantren diterpa
stigma ekslusif, radikal, teroris, dsb. Madrasah, masih banyak guru-guru yang
mismatch.
Pelaksanaan pendidikan agama Islam pada keluarga dan
masyarakat di Indonesia pada umumnya sudah berjalan walaupun belum maksimal.
Pendidikan sangatlah mempengaruhi pelaksanaan pendidikan agama Islam di
keluarga dan masyarakat.
Fazlur Rahman lebih cenderung mengembangkan
ilmuwan-ilmuwan Muslim daripada Islamisasi ilmu pengetahuan. Cara ini dilakukan
Rahman dengan memilih ilmuwan-ilmuwan muslim muda yang berpotensi dengan
mengajarkan kepada mereka metodologi barat modern. Kalau di Indonesia seperti;
M. Amin Rais, Ahmad Syafi’i Ma’arif, dan lain-lain.
REFERENSI
Dahlan dan Sulaiman, Prinsip-prinsip
dan Metoda Pendidikan Islam (Dalam Keluarga, di Sekolah dan di Masyarakat), Bandung:
CV Diponegoro, 1992.
David H. Olson and John DeFrain, Marriages & Families
(Intimacy, Diversity, and Strengths), USA: Mc. Graw Hill Higher Education,
2006 Fifth Edition.
Fitria, Sahrotul. Hadits tentang Keluarga, http://kalidanastiti-space.blogspot.co.id/2013/11/hadits-tentang-pendidikan-keluarga.html
Hawi, Akmal. Kompetensi
Guru Pendidikan Agama Islam Jakarta: Rajawali Press, 2013.
Munif Chatib, sebuah puisi dalam buku “ Gurunya
Manusia”,Bandung: Mizan, 2013.
Noviyanto, Dedi. ASPEK-ASPEK PAI DI SEKOLAH
(Karakteristik, Problematika dan Solusinya) ,https://dedinoviyanto.wordpress.com/my-papers/tentang-pendidikan/aspek-aspek-pai-di-sekolah-karakteristik-problematika-dan-solusinya/.
Putra, Nusa
dan Lisnawati, Santi. Penelitian Kualitatif Pendidikan Agama Islam Bandung:
Rosdakarya, 2013.
Rohim, Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum. http://rohimabdur.blogspot.co.id/2014/05/pendidikan-agama-islam-di-sekolah-umum.html.
Suprayogo, Imam. QUO VADIS PENDIDIKAN ISLAM Pembacaan
Realitas Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan, Malang: UIN MALANG PRESS, 2006.
Sutrisno,
Fazlur Rahman Kajian terhadap Metode, Epistimologi dan Sistem Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.
[1] Akmal Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama
Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2013)
hal.
19.
[2] Nusa Putra dan Santi Lisnawati, Penelitian
Kualitatif Pendidikan Agama Islam
(Bandung: Rosdakarya, 2013),hal.1.
http://kalidanastiti-space.blogspot.co.id/2013/11/hadits-tentang-pendidikan-keluarga.html.
Diunduh pada tanggal 17 Desember 2015.
[4] Dahlan dan Sulaiman, Prinsip-prinsip
dan Metoda Pendidikan Islam (Dalam Keluarga, di Sekolah dan di Masyarakat), (Bandung:
CV Diponegoro, 1992),hlm. 366.
[5] Imam Suprayogo, QUO
VADIS PENDIDIKAN ISLAM Pembacaan Realitas Pendidikan Islam, Sosial dan
Keagamaan, (Malang: UIN MALANG PRESS, 2006),hlm. 167.
[6] David H. Olson and John
DeFrain, Marriages & Families (Intimacy, Diversity, and Strengths),
(USA: Mc. Graw Hill Higher Education, 2006) Fifth Edition, page 74.
[7] Rohim, Pendidikan Agama Islam di Sekolah
Umum
http://rohimabdur.blogspot.co.id/2014/05/pendidikan-agama-islam-di-sekolah-umum.html.
Diunduh pada tanggal 17 Desember 2015 pukul 15:48 WIB.
[8] Dedi Noviyanto, ASPEK-ASPEK PAI DI SEKOLAH (Karakteristik,
Problematika dan Solusinya). Dengan sedikit perubahan,https://dedinoviyanto.wordpress.com/my-papers/tentang-pendidikan/aspek-aspek-pai-di-sekolah-karakteristik-problematika-dan-solusinya/. Diunduh pada tanggal 17 Desember
2015 pukul 15:51 WIB.
[9]
Munif Chatib, sebuah puisi dalam buku “ Gurunya Manusia” (Bandung:
Mizan, 2013),hlm. 2.
[10] Sutrisno, Fazlur Rahman Kajian
terhadap Metode, Epistimologi dan Sistem Pendidikan.(Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2006), hlm. 202.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar