Kamis, 26 Januari 2017

“PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM SECARA ANTRO-SOSIOLOGIS”


Makalah
 “PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM SECARA ANTRO-SOSIOLOGIS”
BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Pendidikan Agama Islam memiliki peran penting, menjadi tombak untuk pendidikan. Pelaksanaan pendidikan agama Islam di lembaga pendidikan Islam keluarga dan masyarakat perlu ditinjau, terutama dari sudut pandang sosio-antropologis.
Pendidikan agama Islam muncul sebagai solusi kegelisahan masyarakat Indonesia yang pada umumnya mendambakan itu. Sebagai negara yang dominan  masyarakatnya memeluk agama Islam, lalu bagaimana dengan pelaksanaan pendidikan agama Islam.
Analisis pelaksanaan pendidikan agama Islam diperlukan untuk mengkritisi dan pelaksanaan pendidikan agama Islam dan mencari solusi. Mahasiswa ataupun calon guru pendidikan agama Islam patut untuk memahami pelaksanaan pendidikan agama Islam bukan hanya dilembaga pendidikan Islam tetapi juga keluarga dan masyarakat.








B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Apa definisi Pendidikan Agama Islam ?
2.      Bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada Keluarga?
3.      Bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah?
4.      Bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada Madrasah?
5.      Bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada Pesantren?
6.      Bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada Masyarakat?
7.      Bagaimana analisis sosio-antropologi pelaksanaan Pendidikan Agama Islam?

C.     TUJUAN

1.      Mengetahui definisi Pendidikan Agama Islam.
2.      Memahami bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di lembaga pendidikan Islam, keluarga dan masyarakat.
3.      Mengetahui analisis sosio-antropologis pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di lembaga pendidikan Islam, keluarga dan masyarakat.






BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan pembimbingan, pengarahan atau latihan dengan memerhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan kesatuan nasional (GBPP SMU, 1995:1).[1]
          Sedangkan menurut Muhaimin (2009), definisi PAI adalah sebagai berikut:
Pendidikan Agama Islam pada dasarnya adalah pendidikan yang menyentuh tiga aspek secara terpadu, yaitu: (1)
knowing , yakni agar peserta didik dapat mengetahui dan memahami ajaran dan nilai-nilai agama; (2) doing, yakni agar peserta didik dapat mempraktikkan ajaran dan nilai-nilai agama; (3) being , yakni agar peserta didik menjalani hidup sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai agama. Adapun tujuan dari Pendidikan Agama Islam secara substansial sangat mulia yakni mengasuh, membimbing, mendorong, mengusahakan, menumbuhkembangkan manusia taqwa. Taqwa merupakan derajat yang menunjukkan kualitas manusia bukan saja dihadapan sesama manusia, tetapi juga dihadapan Allah SWT.[2]
          Sehingga, singkatnya definisi Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang memelihara nilai-nilai maupun ajaran Islam untuk membentuk peserta didik menjadi insan taqwa.







B. Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada Keluarga
A.    Periodesasi Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga
Terbentuknya anak-anak sholeh dan sholehah merupakan dambaan keluarga yang tidak bisa dengan mantra ‘Bim Salabim’ tetapi melalui serangkaian usaha dan proses yang panjang melalui upaya kontinu yang dikondisikan sejak dini bahkan semenjak lahirnya anak ataupun dimulai pada saat seseorang mencari pasangan hidupnya agar tidak keliru mencari jodoh.
Menurut konsepsi pendidikan Islam, pendidikan agama dalam keluarga dapat dibagi menjadi 3 periode.

1.      Periode Pra-Konsepsi
Periode Pra-Konsepsi salah satu upaya persiapan pendidikan yang dimulai semenjak seseorang memilih pasangan hidupnya sampai pada saat ‘mengandung buah hati’.
Pendidikan Islam mengajarkan agar mengutamakan segi agama yang berarti sama-sama beragama Islam dan berbudi pekerti baik. Karena jika yang pernikahan beda agama diberbolehkan maka akan dapat menimbulkan problem dalam kehidupan rumah tangga terutama nantinya dalam pendidikan agama anak-anaknya.
Setelah terbentuknya rumah tangga muslim, langkah selanjutnya mencari rizki dan makanan yang halal. Karena apa yang kita makan berdampak pada keturunan kita. Sedangkan dalam ilmu biologi makanan yang baik dan bergizi akan membentuk janin yang sehat dan kuat.
2.      Pendidikan Pre-Natal
Upaya pendidikan yang dilakukan oleh calon ayah dan calon ibu pada saat anak masih dalam kandungan. Pendidikan pre-natal sangat penting bagi pembentukan pribadi anak karena dipengaruhi oleh perilaku orangtuanya.
Konsepsi pendidikan pre-natal  telah ada dan Islam mengajarkan keteladanan dalam kisah yang tertuang di surat Ali Imran:35.
Adapun pelaksanaan pendidikan agama Islam  antara lain :
a.       Bersifat Agamis
Calon ayah dan calon ibu hendaknya banyak ibadah, berdoa dan membaca qur’an. Serta menjaga lisan dan pikiran hindari negative thinking.




b.      Bersifat Ilmiah
Memakan makanan yang baik, halal dan bergizi, menjaga kebersihan dan menjaga ketenangan dalam rumah tangga. Serta mempelajari ilmu-ilmu umum maupun agama untuk bekal mendidik anak merawat maupun mengasuhnya.
3.      Periode Post-Natal
Pendidikan yang dimulai semenjak lahirnya anak sampai dewasa bahkan sampai meninggal dunia atau yang sering kita dengar ‘Long life Education’.
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
Artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akhirat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (Q.S. Thaha: 132).
Hadits tentang pendidikan terhadap anak
حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ هِشَامٍ يَعْنِي الْيَشْكُرِيَّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ سَوَّارٍ أَبِي حَمْزَةَ قَالَ أَبُو دَاوُد وَهُوَ سَوَّارُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو حَمْزَةَ الْمُزَنِيُّ الصَّيْرَفِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ ,قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Artinya: “Berkata Mu’ammal ibn Hisyam Ya’ni al Asykuri, berkata Ismail dari Abi Hamzah, berkata Abu Dawud dan dia adalah sawwaru ibn Dawud Abu Hamzah Al Muzanni Al Shoirofi dari Amru ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata, berkata Rasulullah SAW: Suruhlah anakmu melakukan sholat ketika berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka karena mereka meninggalkan sholat ketika berumur sepuluh tahun. Dan pisahlah mereka (anak laki-laki dan perempuan) dari tempat tidur.” (H.R. Abu Dawud).[3]

Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa :
a.       Upaya penanaman pendidikan agama kepada anak haruslah dimulai sejak dini dalam lingkungan keluarga, kemudian diteruskan di sekolah dan dimantapkan dalam masyarakat.
b.      Ketiga pusat pendidikan (keluarga, sekolah dan masyarakat) harus selalu seiring, sejalan dan setujuan sehingga tujuan pendidikan Islam akan dapat dicapai.
c.       Dalam kehidupan keluarga, anak sangat membutuhkan suri teladan, khususnya dari kedua orang tuanya agar sejak masa kanak-kanaknya ia menyerap dasar tabiat perilaku Islami dan berpijak pada landasannya yang luhur.[4] Sehingga keteladanan merupakan faktor dari orangtua yang sangat mempengaruhi terhadap pelaksanaan pendidikan agama Islam di lingkungan keluarga.[5]

B.        Spiritual Well-Being
Perhaps the most controversial finding of the family strenghs researches is the importance of religion or spirituality in strong families. Some families call this spiritual well-being. Others talk about faith and God, hope, or optimism about life. Some say they feel a oneness with the world. Others talk about their families in almost religious term, describing the love they feel for one another as secred. Others express these kinds of feelings in terms of ethical values and commitment to important causes.
Spiritual well-being cna be the caring center within each individual that promotes sharing, love, and compassion. Spiritual well-being is the feeling or force that helps people transcend themselves. “I feel my family is a part of all the families of the world,” said one respondent. An important aspect of membership in a religious or spiritual groub is the caring, supportive community is provides. When illness strikes, a baby is born, or an accident occurs, friends in a groub are often quick to help each other.
It is important to distinguish between what is “spiritual” versus “religious” in talking about spiritual well-being (Erisman, 2004). While spiritual beliefs focus on private and more universal beliefs, religious beliefs emphasize the public and external system linked more with denominations than family dynamics. Families that are grounded spiritually often have integrated these beliefs into their family behavior and traditions.
Agreement by a married couple on spiritual beliefs has also been found to be strongly linked to a more succesful marriage (Larson and Olson, 2004). In a national study with 24,671 marrried couples who took the ENRICH couple inventory, couples with high agreement on spiritual beliefs not only were more happily married, but also had many other strengths in their marriages including better communication, greater ability to resolve conflict and feeling more couple closeness; they also had igher levels a couple flexibility.[6] 
Penemuan yang paling kontroversial dari kekuatan keluarga penelitian adalah pentingnya agama atau spiritualitas dalam keluarga yang kuat. Beberapa keluarga menyebutnya spiritual kesejahteraan. Lainnya berbicara tentang iman dan Tuhan, harapan, atau optimisme tentang kehidupan. Ada yang mengatakan mereka merasa kesatuan dengan dunia. Lainnya berbicara tentang keluarga mereka di jangka hampir agama, menggambarkan cinta yang mereka rasakan satu sama lain sebagai secred. Lainnya mengungkapkan jenis-jenis perasaan dalam hal nilai-nilai etika dan komitmen untuk penyebab penting.
Spiritual kesejahteraan cna menjadi pusat perhatian dalam setiap individu yang mempromosikan berbagi, cinta, dan kasih sayang. Spiritual kesejahteraan adalah perasaan atau kekuatan yang membantu orang mengatasi sendiri. "Saya merasa keluarga saya adalah bagian dari semua keluarga di dunia," kata salah seorang responden. Sebuah aspek penting dari keanggotaan dalam groub agama atau spiritual adalah kepedulian itu, masyarakat mendukung adalah menyediakan. Ketika serangan penyakit, bayi lahir, atau kecelakaan terjadi, teman-teman di groub sebuah sering cepat untuk membantu satu sama lain.
Hal ini penting untuk membedakan antara apa yang "spiritual" versus "agama" dalam berbicara tentang spiritual kesejahteraan (Erisman, 2004). Sementara keyakinan spiritual fokus pada keyakinan pribadi dan lebih universal, agama menekankan sistem publik dan eksternal terkait dengan denominasi lebih dari dinamika keluarga. Keluarga yang membumi sering rohani telah terintegrasi keyakinan dalam perilaku keluarga dan tradisi.
Kesepakatan oleh pasangan yang sudah menikah pada keyakinan spiritual juga telah ditemukan sangat terkait dengan pernikahan yang lebih sukses (Larson dan Olson, 2004). Dalam sebuah studi nasional dengan 24.671 pasangan marrried yang mengambil beberapa memperkaya persediaan, pasangan dengan kesepakatan tinggi pada keyakinan spiritual tidak hanya yang lebih bahagia menikah, tetapi juga memiliki banyak kekuatan lain di pernikahan mereka termasuk komunikasi yang lebih baik, kemampuan yang lebih besar untuk menyelesaikan konflik dan merasa lebih beberapa kedekatan; mereka juga memiliki tingkat lebih tinggi beberapa lagi fleksibilitas.

C . Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah
Pelaksanaan pendidikan agama yang berlangsung disekolah masih mengalami banyak kelemahan. Mochtar Buchori menilai pendidikan agama masih gagal. Kegagalan disebabkan karena praktek pendidikan hanya memperhatikan aspek kognitif semata dari pertumbuhan kesadaran nilai-nilai agama, dan mengabaikan pembinaan aspek afektif yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama. Akibat terjadi kesenjangan antara pengetahuan dan pengamalan dalam kehidupan nilai agama atau dalam praktek pendidikan agama berubah menjadi pengajaran agama, sehingga tidak membentuk pribadi-pribadi bermoral, padahal intisari dari pendidikan agama adalah pendidikan moral.
Dalam pelaksanaan progam pendidikan agama di berbagai sekolah umum, belum seperti yang kita harapkan, karena berbagai kendala dalam bidang kemampuan pelaksanaan metode, sarana fisik dan non fisik. Disamping suasana lingkungan pendidikan yang kurang menunjang suksesnya pendidikan mental spiritual dan moral. Padahal fasilitas dasarnya telah disediakan oleh pemerintah melalui Tap-Tap MPR, pengaturan perundangan lainya, serta berbagai proyek pembangunan sektor agama dan pendidikan.
Beberapa faktor yang menghambat pendidikan agama :
1.      Faktor-faktor eksternal
a.       Timbulnya sikap orang tua dibeberapa lingkungan sekitar yang kurang menyadari tentang pentingnya pendidikan agama, tidak mengacuhkan akan pentingnya pemantapan pendidikan agama di sekolah yang berlanjut di rumah. Orang tua yang bersikap demikian disebabkan oleh dampak kebutuhan ekonomisnya yang mendorong bekerja 20 jam di luar rumah, sehingga mereka menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah untuk mendidik anaknya 2 jam per minggu.
b.      Situasi lingkungan sekitar sekolah dipengaruhi pikiran kotor dalam berbagai raga bentuknya, seperti judi, tontonan porno dan maksiat-maksiat lainnya. Situasi yang demikian dapat melemahkan daya konsentrasi berfikir dan berakhlaq mulia, serta mengurangi gaya belajar, bahkan mengurangi daya saing dalam meraih kemajuan.
c.       Adanya gagasan baru dari para ilmuan untuk mencari terobosan baru terhadap berbagai problema pembangunan dan kehidupan remaja, menyebabkan para pelajar secara latah mempraktekan makna yang keliru atats kata-kata yang terobosan menjadi mengambil jalan pintas dalam mengejar cita-citanya tanpa melihat cara-cara yang halal dan haram, seprti mencontek, membeli soal-soal ujian akhir, perolehan nilai secara aspal, bahkan ada yang menghalalkan cara apapun seprti doktrin komunisme.
d.      Timbulnya sikap frustasi dikalangan orang tua yang beranggapan bahwa tingginya tingkat pendidikan, tidak akan menjamin anaknya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, sebab perluasan lapangan kerja tidak dapat mengimbangi banyaknya pencari kerja.
e.  Serbuan dampak kemajuan ilmu dan teknologi dari luar negri semakin melenturkan perasan religius dan meleberkan kesenjangan antara nilai tradisional dengan nilai rasional teknologis, menjadi sumber transisi nilai yang belum menentukan arah dan pemukiman yang baru.
2.      Faktor-faktor internal
a.   Guru kurang kompeten utnuk menjadi tenaga profesional pendidikan atau jabatan guru yang disandangnya hanya merupakan pekerjaan alternatif terakhir, tanpa menekuni tugas sebenarnya selaku guru yang berkualitas atau tanpa ada rasa dedikasi sesuai tuntutan pendidikan.
b.  Penyalahgunaan menejemen penempatan yang mengalih tugaskan guru agama ke bagian administrasi, seperti perpustakaan, atau pekerjaan non guru.
c.    Pendekatan metologi guru masih terpaku kepada orientasi tradisional, sehingga tidak mampu menarik minat murid pada pelajaran agama.
d.    Kurangnya rasa solidaritas antra guru agama dengan guru - guru bidang studi umum, sehingga timbul sikap memencilkan guru agama, yang mengakibatkan pelaksanaan pendidikan agama tersendat-sendat dan kurang terpadu.
e.     Kurangnya waktu persiapan guru agama dalam mengajar karena disibukan oleh usaha nonguru untuk mencukupi kebutuhan ekonomi sehari-hari atau mengajar di sekolah-sekolah suasta.
f.     Hubungan guru agama dengan murid hanya bersifat formal, tanpa berkelanjutan dalam situasi informal di luar kelas.[7]




No
Ruang Lingkup/Aspek
Problematika
Solusi
1
Al- Quran
1.   Kurangnya kemampuan siswa dalam membaca dan menulis
2.  Waktu yang tersedia tidak mencukupi apabila pembelajaran al-Quran ditambah
1. Bekerjasama dengan TPQ di lingkungan sekolah.
2. Dengan cara menambahkan pembelajaran al-Quran bagi siswa dalam prog. Ekstrakurikuler.
2
Al-Hadits
1.   Kurangnya materi hadits yang ada di dalam kurikulum
2.     Bersifat hafalan
1.   Guru PAI mengembangkan materi hadits sehingga hadits yang ditampilkan lebih beragam.
2.    Mengaitkan materi hadits dengan kehidupan sehari-hari(lebih aplikatif)
3
Keimanan/Aqidah
1.Lebih menekankan materi yang bersifat pendoktrinan
2.   Bersifat kognitif
1.  Mengaitkannya dengan kehidupan nyata sehari-hari serta membuka dialog.
2. Memberikan pengalaman belajar langsung sehingga mengesankan bagi siswa.
4
Akhlak
1.Lebih menekankan kepada kemampuan kognitif
2.Contoh-contoh yang diberikan lebih bersifat sosok ideal lama
1.   Evaluasi harus diubah, yaitu lebih menekankan kepada penerapan, misalnya dengan pembelajaran penerapan langsung.
2.Mengaitkannya materi dengan sosok/tokoh masa kini.
5
Fiqih
1.Penilaian seringkali lebih menekankan pada kemampuan kognitif
2.    Kurangnya sarana prasarana
1.   Evaluasi juga menekankan kepada penerapan.
2.Bekerjasama dengan lembaga keagamaan di sekitar sekolah.
6
SKI
1.    Seringkali hanya bersifat narasi dan  hafalan
2.    Kurangnya minat siswa
1.   Menekankan kepada pengambilan hikmah.
2. Ditampilkan suasana yang menarik minat siswa, dengan mengaitkannya kepada kehidupan sehari-hari siswa.






Puisi Sekolah dari Munif Chatib

Sekolah itu bukan warung.
Sekolah itu institusi sumber daya manusia tingkat tinggi.
Butuh orang-orang yang punya komitmen dan kompetensi untuk membangunnya.
Ketika hakikat belajar dikembalikan kepada hakikat manusia,
tidak semua orang bisa menerimanya,
banyak orang yang menganggap mustahil.

Namun, kami punya keyakinan,
bahwa belajar itu harus manusiawi.
Belajar itu harus menyelam dalam kondisi siswanya,
seperti sepak terjang para nabi mangajar umatnya,
penuh tantangan untuk berhasil.

Ketika seorang guru meragukan,
tidak ada anak yang bodoh di Sekolahnya Manusia,
bersamaan dengan itu, ...
ribuan guru mampu memberikan kepercayaan diri:
aku bisa, ... aku ada, ... aku punya manfaat,
kepada banyak anak yang punya hambatan.

Ketika seorang guru mengeluh,
Sekolahnya Manusia gagal menghadirkan nilai kognitif yang tinggi,
bersamaan dengan itu, ...
ribuan guru bersyukur, nilai kognitif para siswanya sangat mengagumkan.

Ketika seorang guru menanggalkan fitrah kemanusiaannya,
menuhankan kognitif dengan halalkan ketidakjujuran,
bersamaan dengan itu, ...
ribuan guru bahagia, nilai kognitif siswanya berhasil,
dengan kejujuran tingkat tinggi,

Ketika seorang guru menggerutu,
Sekolahnya Manusia menghasilkan siswa yang nakal tidak bisa diatur,
bersamaan dengan itu, ...
ribuan guru menjadi sahabat siswanya seumur hidup,
menjadi pantikan inspirasi meraih cita-cita!.[9]

D.  Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada Madrasah
Pelaksanaan pendidikan agama Islam di madrasah bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan berkarakter. Namun, pada pelaksanaanya penulis dalam beberapa literatur penulis menemukan stigma negatif tentang pelaksanaan PAI di madrasah. Di Indonesia sebagian besar lembaga pendidikan Islam yang kurang memperhitungkan kualitasnya. Bagaimana hendak menjadi lembaga Islam yang sosio-antropologi, sedangkan masih banyak guru-guru yang  mismatch (Guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidang keilmuannya, misalnya lulusan PAI mengajar B.Inggris, lulusan syari’ah mengajar matematika,dsb).
Menurut penulis, memang adakalanya stigma itu benar adanya. Tapi, permasalahan itu tidak hanya terdapat di lembaga pendidikan Islam tingkat madrasah tetapi juga semua lembaga pendidikan di Indonesia rata-rata mengalami masalah yang serup juga.
E. Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada Pesantren
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam di Indonesia pribumi, tempat umat Islam belajar dan mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-harinya.
Pesantren Darul Arafah Deli Serdang Sumatra Utara pembelajarannya menggunakan  referensi yang dominan menggunakan buku berbahasa Arab. Mata pelajaran terpisah-pisah (fiqh, SKI, Tauhid, Muthola’ah yakni belajar bahasa Arab dengan kata mutiara, nahwu Shorof, dll ). Pelaksanaan pendidikan agama Islam, pada mata pelajaran fiqh bidayatul mujtahid (Pendapat para ulama mazhab), bullughul maram (kumpulan hadits), pelajaran mustholahul hadits.

F.  Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada Masyarakat
Masyarakat Indonesia yang pada umumnya beragama Islam, tentu mempengaruhi pelaksanaan pendidikan agama Islam. Namun, yang perlu di garis bawahi yakni bagaimana menjadi masyarakat yang peka akan pendidikan terutama pendidikan Islam. Dalam sebuah fenomena, sebagian besar masyarakat kita tahu akan haramnya berpakaian yang tidak sedap dipandang dalam agama. Namun, itulah kenyataanya. Sebagian dari kita tahu akan menghormati dan menyayangi, tetapi pada implementasinya masih kurang. Banyak orang di kalangan masyarakat yang hanya mau berbicara tanpa ingin mendengarkan pendapat/suara orang lain.












BAB III
KESIMPULAN
 Analisis Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam secara Sosio-Antropologis
Pendidikan Agama Islam di Indonesia dapat dibedakan ke dalam dua tingkatan, yaitu pendidikan dasar-menegah Islam  dan pendidikan tinggi Islam. Kemudian, pendidikan dasar-menegah Islam di Indonesia dapat dibedakan lagi ke dalam tiga jenis, yaitu:
1. Pesantren
2. Madrasah
3. Sekolah[10]
Masing-masing mempunyai keunggulan disamping kelemahan. Pada umumnya pesantren unggul di bidang ilmu-ilmu agama, tetapi lemah di bidang ilmu-ilmu umum. Sebaliknya, sekolah lemah di bidang ilmu-ilmu agama dan unggul di bidang ilmu-ilmu umum. Madrasah didirikan untuk menampung keunggulan pesantren dan sekolah, disamping upaya untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi kelemahan dari keduanya. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan sebaliknya, kecuali beberapa madrasah, seperti Madrasah Aliyah Insan Cendikia Serpong, Madrasah Pembangunan Jakarta, Madrasah Terpadu (MIN, MtsN, MAN) Malang, dsb.
Lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia masing-masing memiliki kelemahan dan keunggulan. Misalnya; pesantren diterpa stigma ekslusif, radikal, teroris, dsb. Madrasah, masih banyak guru-guru yang mismatch.
Pelaksanaan pendidikan agama Islam pada keluarga dan masyarakat di Indonesia pada umumnya sudah berjalan walaupun belum maksimal. Pendidikan sangatlah mempengaruhi pelaksanaan pendidikan agama Islam di keluarga dan masyarakat.
Fazlur Rahman lebih cenderung mengembangkan ilmuwan-ilmuwan Muslim daripada Islamisasi ilmu pengetahuan. Cara ini dilakukan Rahman dengan memilih ilmuwan-ilmuwan muslim muda yang berpotensi dengan mengajarkan kepada mereka metodologi barat modern. Kalau di Indonesia seperti; M. Amin Rais, Ahmad Syafi’i Ma’arif, dan lain-lain.


REFERENSI

 Dahlan dan Sulaiman, Prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan Islam (Dalam Keluarga, di Sekolah dan di Masyarakat), Bandung: CV Diponegoro, 1992.

David H. Olson and John DeFrain, Marriages & Families (Intimacy, Diversity, and Strengths), USA: Mc. Graw Hill Higher Education, 2006 Fifth Edition.


Hawi, Akmal. Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam Jakarta: Rajawali Press, 2013.

Munif Chatib, sebuah puisi dalam buku “ Gurunya Manusia”,Bandung: Mizan, 2013.

Noviyanto, Dedi.  ASPEK-ASPEK PAI DI SEKOLAH (Karakteristik, Problematika dan Solusinya) ,https://dedinoviyanto.wordpress.com/my-papers/tentang-pendidikan/aspek-aspek-pai-di-sekolah-karakteristik-problematika-dan-solusinya/.

Putra, Nusa dan Lisnawati, Santi. Penelitian Kualitatif Pendidikan Agama Islam Bandung: Rosdakarya, 2013.


Suprayogo, Imam. QUO VADIS PENDIDIKAN ISLAM Pembacaan Realitas Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan, Malang: UIN MALANG PRESS, 2006.

Sutrisno, Fazlur Rahman Kajian terhadap Metode, Epistimologi dan Sistem Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.



[1] Akmal Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2013)
hal. 19.
[2] Nusa Putra dan Santi Lisnawati, Penelitian Kualitatif Pendidikan Agama Islam
 (Bandung: Rosdakarya, 2013),hal.1.
[3]   Sahrotul Fitria, Hadits tentang Keluarga,
[4] Dahlan dan Sulaiman, Prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan Islam (Dalam Keluarga, di Sekolah dan di Masyarakat), (Bandung: CV Diponegoro, 1992),hlm. 366.
[5] Imam Suprayogo, QUO VADIS PENDIDIKAN ISLAM Pembacaan Realitas Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan, (Malang: UIN MALANG PRESS, 2006),hlm. 167.
[6] David H. Olson and John DeFrain, Marriages & Families (Intimacy, Diversity, and Strengths), (USA: Mc. Graw Hill Higher Education, 2006) Fifth Edition, page 74.
[7]  Rohim, Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum
http://rohimabdur.blogspot.co.id/2014/05/pendidikan-agama-islam-di-sekolah-umum.html.
Diunduh pada tanggal 17 Desember 2015 pukul 15:48 WIB.
[8] Dedi Noviyanto,  ASPEK-ASPEK PAI DI SEKOLAH (Karakteristik, Problematika dan Solusinya). Dengan sedikit perubahan,https://dedinoviyanto.wordpress.com/my-papers/tentang-pendidikan/aspek-aspek-pai-di-sekolah-karakteristik-problematika-dan-solusinya/. Diunduh pada tanggal 17 Desember 2015 pukul 15:51 WIB.
[9] Munif Chatib, sebuah puisi dalam buku “ Gurunya Manusia” (Bandung: Mizan, 2013),hlm. 2.
[10] Sutrisno, Fazlur Rahman Kajian terhadap Metode, Epistimologi dan Sistem Pendidikan.(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 202.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah: TEORI-TEORI KEBIJAKAN PUBLIK: PROSES DAN PERUMUSAN

TEORI-TEORI KEBIJAKAN PUBLIK: PROSES DAN PERUMUSAN Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah   “Kebijakan dan Kepemimpinan ...